“Know the enemy!” adalah salah satu frase yang paling banyak dikutip, baik dalam seminar bisnis maupun brainstorming operasi militer. Frase diatas ditulis oleh Jendral Sun Tzu, seorang genius dalam strategi militer hampir 24 abad yang silam, seperti tertulis di gatra (verse) terakhir, pupuh (chapter) ketiga dari buku “The Art of War” [Sun Tzu, 400-320 BC]:
“Know the enemy and know theyself,
find naught in fear for a hundred battles.
Know theyself but not the enemy,
find level of loss and victory.
Know the enemy but not theyself,
wallow in defeat every time.”
Buat yang kurang biasa dengan “the poetic language of the bard”, terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut: “Memahami (situasi, kekuatan, karakter) musuh dan diri sendiri memastikan kemenangan (sukses). Memahami diri sendiri tanpa memahami musuh hanya membuat kita ‘kadang menang kadang kalah’. Memahami musuh tanpa memahami diri sendiri memastikan kita kalah terus-menerus.”
Inilah titik lemah bangsa saya (yang mau tidak mau sangat ditentukan oleh karakteristik majoritasnya) dalam kerangka “knowing thyself” yang dibilang Sun Tzu diatas. Menarik membaca over-reaksi seorang sahabat yang langsung menuduh ini sebagai celaan, hinaan, kebencian [terhadap Islam] — Saya tidak ingin buang waktu untuk membela diri, tak ada gunanya [Cak Kodim tetangga saya sering mengingatkan bahwa seorang narsistik itu seringkali juga paranoid]. Kendati anggota ini tidak mewakili siapa-siapa [apalagi "global brotherhood" ... brother hood my foot!], reaksinya ini juga tidak jauh beda dengan reaksi tipikal kelompok Islam garis keras (preman) di tanah air, jadi saya merasa perlu menunjuk kelemahan nomor dua, mungkin tepatnya sebagai “corollary” dari kelemahan pertama (rasa rendah diri yang berlebihan), yaitu super-defensive, siege mentality, penuh kecurigaan, takut perubahan, takut keluar dari gua (Plato’s caveman allegory) atau tempurung kebodohannya.

Sebetulnya jarang saya mengutip Sun Tzu –lha wong saya sendiri tidak pernah merasa punya musuh dan sudah lama “menggantung pedang”– tetapi kesan yang saya rasakan selama mengikuti diskusi dan pembicaraan-pembicaraan soal agama di berbagai forum diskusi dari diskusi ala proletariat sampai diskusi di dunia maya ini adalah, ada “musuh” yang perlu dilawan (barat, yahudi, dsb), karena itu bicara pakai jurus-jurus Sun Tzu mungkin lebih mudah dipahami, bahkan oleh orang yang paling bebal sekalipun. Memahami diri dan musuh yang paling mudah adalah dengan mempelajari sejarah. “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it,” kata almarhum George Santayana (”The Life of Reason,” ch. 12), penulis asal Spanyol yang mengajar filosofi di Harvard.
Sejarah penuh dengan pelajaran berharga dari masa silam, yang bisa dimanfaatkan untuk mengambil keputusan dan menentukan strategi yang baik di masa kini [tentu saja yang saya maksud adalah sejarah beneran, bukan sejarah-sejarahan, mitos dan ilusi yang dibikin untuk membohongi diri sendiri]. Misalnya musuh bebuyutan Sunni-Shiite di Iraq itu sebetulnya kan “sejarah berulang” dari yang terjadi di abad 16, bunuh-bantai-bakar antara yang Katolik dan Protestan/Hugenot [kalau ingin tahu lebih lanjut coba tanya mbah Google atau om Wiki ; "French Wars of Religion"] — mungkin dengan begitu kegilaan bunuh-bantai-bakar (dan sekarang pakai “bom” pula) itu bisa dihindari atau dikontrol.
Sedikit warning … knowing the truth can be painful, seperti halnya waktu check kesehatan rutin dapat kabar buruk dari dokter “you got cancer” (or AIDS, or other serius ailments). C’est la vie! Bagimanapun, lebih baik tahu ketimbang tidak tahu, betapapun menyakitkan/menyedihkan pengetahuan itu — sebab dengan pengetahuan itu kita bisa membuat keputusan (informed-decision) dan langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi apapun yang harus kita hadapi. Salah satu “painful truth” yang menurut saya perlu dibaca dan diketahui oleh bangsa kita (dan terutama majoritasnya) adalah sejarah dari buku “What Went Wrong? Western Impact and Middle Eastern Response” yang ditulis oleh Bernard Lewis, profesor emeritus dari Princeton yang memang world-expert soal Timur Tengah. Buku ini membahas secara komprehensip sebab-sebab merosotnya peradaban Islam yang mencapai puncaknya dan berjaya selama seribu tahun sampai pada taraf sangat teruruk seperti saat ini. [Ada baiknya sekalian baca buku "Guns, Germs and Steel" nya Jared Diamond-buku wajib mata kuliah Ekologi Manusia di ITB]
Memang menyakitkan sekali membaca buku “What Went Wrong?”tersebut, tetapi yang paling penting adalah apa yang dapat kita pelajari dari cuplikan kejadian dikurun waktu itu, apa yang bakal jadi pilihan dan tindakan kita untuk masa mendatang (puluhan, ratusan tahun ke depan). Apakah kita mau bangkit dan “menang” atau memilih kembali ke gua, kembali ke peradaban abad keenam, apakah ilusi negeri syariah itu viable dan feasible di jaman modern ini, atau justru ini yang menyebabkan kejatuhan peradaban Islam — dan yang kemudian digantikan oleh kebangkitan peradaban barat (renaissance) yang lebih adaptive terhadap perubahan ekonomi, sosial, politik dan budaya umat manusia.
Menarik sekali observasi-nya Bernard Lewis soal kesetaraan gender dan kaitannya dengan edukasi (pendidikan sekolah). Bahwa dengan “membatasi” golongan wanitanya dari kesempatan edukasi (dibandingkan dengan golongan lelakinya) bisa dibilang satu masyarakat telah melakukan tindakan yangself-destructive. Adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa peran ibu dalam edukasi jauh lebih menetukan daripada peran si bapak (lihat saja “sewotnya” ibu-ibu Yahudi, India, Jepang atau Korea dan bagaimana kualitas SDM di negeri tersebut). Kalau si ibu ini ignorant atau kurang educated, besar kemungkinan edukasi anaknya juga relatif kurang bagus. Jadi dalam satu generasi saja sudah terjadi penurunan kualitas edukasi di kelompok masyarakat tersebut.
Begitu pula benturan antara sains dan tafsir agama yang literal. Ini jelas menghambat akusisi pengetahuan alam yang dan selanjutnya ilmu-ilmu terapan diatasnya. Apakah terus harus diubah “akidah”nya (seperti yang ditakutkan oleh Helsing dan paranoid sejenisnya). Saya rasa tidak perlu. Sejarah menunjukkan contohnya, bahwa kitab suci orang Katolik ya masih itu-itu juga (seperti kitab suci lain, disamping yang baik-baik ada kekerasannya, ada kafir-kafiran juga) tetapi tafsir atau tepatnya attitudemereka bisa berubah, pelan-pelan lamban ataupun yang drastik seperti pada Konsili Vatikan II. [Sebelum itu energi banyak terbuang buat "menyelamatkan" atau "ngafir-ngafirkan" orang lain, termasuk saudara kandungnya yang Protestan -- attitude setelah KV-II, jauh lebih "stel kendo" ... ah sampiyan juga bisa slamet kok. Acara carok-carokan menurun drastis.] Yang begini-begini ini kan seharusnya bisa dijadikan pelajaran diri sendiri, paling tidak yang busuk-busuk itu tidak diulangi lagi (seperti dibilang Santayana), dan lebih bagus lagi kalau bisa memahami juga bagaimana sejarah “lawan” kita (Sun Tzu style).
Memang, yang paling mudah adalah menutup mata, menutup pikiran dan mata hati dengan tempurung kesayangan kita … lho apakah virus helsingitis sudah jadi pandemic di negeri ini? Know the enemy and know theyself, …. Tetangga saya Cak Pur, yang dulu pernah diskusi tentang ini, usil menambahkan retorik: “Lalu, apa kata Sun Tzu bagi orang yang tidak memahami musuh sekaligus juga tidak memahami diri sendiri? ….. Di kampung Cak Agoek, salah seorang sahabat saya, dulu yang begitu itu disebut blas ndlahom, ta’iya?” Tabik…