Dalam perang di dunia
modern, negara manapun juga tidak akan bisa menang tanpa
angkatan laut yang superior (P.K. Ojong, 1:1). Pendapat tersebut sangat relevan
jika menyimak bagai-mana kekaisaran Jepang mem-bangun Angkatan Laut
kekaisarannya (Nihon Kaigun) menjadi sebuah kekuatan yang menakjubkan dan
modern sejak menjalankan Politik Pintu Terbuka di Era Meiji tahun 1868.
Kemudian untuk menambah kedigdayaan armada kapal perangnya, Jepang juga
membangun skuadron pesawat tempur yang mampu memberikan dukungan penuh bagi
operasional AL, baik untuk pengintaian, penyerangan maupun angkut. Setelah AL
Jepang “berguru” ke Amerika Serikat, Inggris dan Jerman, berhasil
dilakukan alih-teknologi dan membuat pesawat tempur dan pembom yang mampu
take-off / landing dari/ke atas kapal perang. Tidak hanya itu, Jepang juga
berhasil merancang sendiri di dalam negerinya kapal induk pengangkut pesawat
(aircraft carrier), berbagai tipe kapal selam dan kapal perang permukaan
berbagai ukuran.
Namun seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi keangkatanlautan tersebut,
kelompok ultra-nasionalis Jepang yang di pertengahan kurun waktu 1930-an
berhasil mendominasi pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat di Jepang.
Semua itu berujung pada bangkitnya semangat ekspansionis Jepang. Setelah
berhasil menaklukkan Manchuria, Semenanjung Korea dan sebagian Cina, Jepang
mulai melirik kawasan Asia Tenggara bagian selatan yang kaya hasil alam,
terutama minyak, yang sangat dibutuhkan industri mesin perangnya. Guna
memuluskan rencananya ter-sebut, Jepang terlebih dahulu harus mengeliminir
kekuatan Amerika Serikat, Inggris Australia dan Belanda di Pasifik serta Asia
Tenggara. Ketika perang dimulai, 4 negara seteru Jepang di Asia Teng-gara
kemudian bergabung dalam Sekutu atau ABDA (America, British, Dutch, Australia).
ABDA dipimpin oleh Jenderal Sir Archibald Wavell (Inggris), sementara sebagai
Komandan Armada Gabungan adalah Admiral Conrad Emil L. Helfrich (Belanda).
Untuk me-nguasai kawasan selatan, Jepang mengandalkan kekuatan armada kapal
perang, yang terdiri atas kapal induk, kapal tempur, destroyer bertorpedo dan
kapal selam, serta didukung penuh oleh skuadron udara yang berpangkalan di
kapal induk. “Gebukan” pertama AL Jepang terhadap Sekutu diawali dengan
membombardir Pangkalan Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbor, Hawaii, tanggal
8 Desember 1941.
Setelah melumpuhkan Armada Pasifik, bala tentara gabungan Jepang serentak
bergerak menguasai kawasan selatan dengan menggelar Operasi Octopus (Gurita)
yang terbagi dalam 2 kolom, yaitu Gurita Timur dan Gurita Barat. Gerakan Gurita
yang bertujuan merebut Hindia Belanda dipimpin langsung oleh Rear Admiral Takeo
Takagi. Ekspansi Jepang tersebut kemudian dihadapi oleh Sekutu dengan mengerahkan
armada kapal perangnya yang berpangkalan di Asia Tenggara, sehingga kemudian
meletuslah Pertempuran Laut Jawa pada tanggal 27 Pebruari 1942 yang akan
menjadi penentu nasib Sekutu di Asia Tenggara (kecuali Australia).
Jawa ”Benteng Alamo”
Asia Tenggara
Gurita Timur dalam gerakannya untuk menguasai wilayah selatan, menjadikan Pulau
Jawa, Markas Komando ABDA di Pasifik Barat dan sekaligus pusat pemerintahan
Kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia, red), sebagai sasaran utamanya.
Menyusul sukses meluluh-lantakkan Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbor,
memasuki paruh awal tahun 1942, AL kekaisaran Jepang terus merangsek ke wilayah
selatan seolah tanpa hambatan berarti. Kejatuhan Singapura yang disusul oleh
Kalimantan dan Sulawesi seolah menjadi penanda akan berakhirnya riwayat Sekutu
di Asia Tenggara.
Dalam menghadapi ancaman serangan dan pendaratan amfibi pasukan Jepang, Sekutu
berencana menghadang musuh di perairan Laut Jawa, tepatnya di depan Pulau
Bawean. Di atas kertas, seolah perimbangan kekuatan antara 2 pihak yang
bermusuhan tersebut, nampak tidak banyak perbedaan. Namun ada beberapa nilai
tambah yang dimiliki pihak Jepang, yaitu diperkuat sejumlah pesawat pengintai,
kompak, daya jangkau tembakan meriam kapal penjelajahnya lebih jauh diban-dingkan
penjelajah Sekutu, per-sonilnya bersemangat tinggi dan terlatih, adanya
keseragaman bahasa dan kode, serta yang terpenting seluruh kapal perangnya
dipersenjatai dengan torpedo. Sementara Sekutu tidak diperlengkapi pesawat
intai, lalu kapal perang yang dipersenjatai torpedo hanya 2 yaitu HMS Exeter
(Inggris) dan HMAS Perth (Aus-tralia), yang terparah tidak ada keseragaman kode
serta penggunaan 2 bahasa: Inggris dan Belanda. Semua itupun masih harus
diperumit dengan adanya friksi diantara ko-mando Sekutu sendiri, seperti nasib
Admiral Thomas C Hart Komandan AL Amerika di Pasifik Barat yang semua
perintahnya diabaikan oleh para komandan Belanda, hanya karena tidak senang
orang Amerika memimpin perang laut di wilayah Belanda. Sehingga akhirnya Helfrich
dengan inisiatif pribadi langsung mengambilalih komando Armada Gabungan Sekutu
di Hindia-Belanda.
Adanya ketidakkompakan diantara pimpinan teras Sekutu kian kentara, ketika
Jenderal Wavell menarik mundur seluruh kekuatan Inggris dari Hindia-Belanda ke
Australia. Pertimbangan jenderal tua veteran Perang Dunia I tersebut, adalah
Jawa sudah tidak akan mungkin dipertahankan lagi, apalagi se-bagian besar Asia
Tenggara sudah ada dalam cengkeraman Jepang. Ditambah lagi, pertahanan Sekutu
di Pasifik Tengah, Timor dan Papua sudah kian kocar-kacir yang mengakibatkan
posisi Australia menjadi “sangat berbahaya”. Tindakan Wavell kemudian diikuti
oleh Jenderal Brereton, Komandan AU Amerika di Pasifik Barat, yang juga
memerintahkan penarikan seluruh kekuatan udara Sekutu. Seluruh kekuatan
pertahanan Sekutu (ABDA) akan dipusatkan di Australia, sebagai benteng
terakhir. Meskipun demikian Sekutu, masih meninggalkan beberapa kapal perang
tua dan segelintir pesawat tempur untuk mempertahankan Jawa. Keputusan ABDA
tersebut kontan memancing kemarahan pihak Belanda yang merasa dikhianati
rekan-rekannya sendiri. Akhirnya semua komando ABDA di Jawa diambil-alih oleh
perwira-perwira Belanda. Sekutu telah kalah sebelum bertempur, sementara dua
Gurita Jepang terus bergerak mengepung Jawa dan menjadikannya mirip nasib
Benteng Alamo di Texas, Amerika, tahun 1836. Saat itu, para pejuang Texas yang
mempertahankan Alamo dibiarkan berjuang sendirian, karena pasukan induknya
lebih memilih bertahan di sekitar perbatasan Texas (Koloni Mexico)-Amerika,
walaupun pasukan Mexico yang berjumlah lebih besar mengepung benteng tua
tersebut. Semua itu didasari pandangan bahwa mempertahankan Jawa adalah sia-sia
dan hanya akan mendatangkan kehancuran total bagi Sekutu di Pasifik. Bertahan
di Australia dipandang jauh lebih rasional dan lebih aman untuk mendatangkan
bantuan dari Amerika.
Een Mooie Zeeslag
Setelah sepenuhnya memegang komando, Belanda bermaksud melakukan peperangan
laut terakhir dan menentukan di Laut Jawa dengan mengerahkan seluruh armada Sekutu
yang tersisa di Pulau Jawa. Helfrich bermaksud menunjukkan kepada Komando ABDA,
bahwa Belanda masih memiliki kehormatan untuk bertempur hingga titik akhir
ketimbang melakukan gerakan mun-dur, sebagaimana yang dilakukan Sekutu di tiap
front. Armada Sekutu yang dike-rahkan untuk mencegat Gurita Timur Jepang
dipimpin oleh Schout Bij Nacht Rear Admiral Karel Willem Frederik Marie
Doorman. Kapal perang yang di-kerahkan antara lain: Belanda (Penjelajah Ringan
Hr. Ms. De Ruyter dan Hr. Ms. Java, Destroyer Hr. Ms. Kortenaer, Hr. Ms.
Evertsen dan Hr. Ms. Witte de With), Amerika-US Destroyer Division 58
(Penjelajah Berat USS Houston, Destroyer USS John D. Ford, USS Pope, USS Paul
Jones, USS John D. Edwards dan USS Alden), Inggris (Penjelajah Berat HMS
Exeter, Destroyer HMS Electra, HMS Jupiter dan HMS Encounter) dan Australia
(Pen-jelajah Ringan HMAS Perth). Selain itu, juga diperkuat oleh sejumlah
pesawat tempur jenis Buffalo Brewster dan Glenn Martin. Sebagai kapal bendera
adalah Hr. Ms. De Ruyter.
Armada Sekutu tersebut ha-rus menghadapi Gurita Timur pimpinan Rear Admiral
Takeo Takagi, Pe-nakluk Filipina, yang ditugaskan untuk menundukkan Jawa.
Armada Jepang terdiri atas Penjelajah Berat Nachi dan Haguro, Penjelajah Ringan
Naka dan Jintsu, serta diperkuat 14 Des-troyer. Sebagai kapal bendera adalah
Nachi. Sementara itu untuk mendukung pengintaian juga diperkuat dengan sejumlah
pesawat intai dan untuk pendaratan amfibi disertakan se-jumlah kapal angkut
pasukan. Armada Jepang tersebut mendekati Jawa melalui Selat Makassar dan terus
bergerak mendekat ke Pulau Bawean.
Sesungguhnya jauh sebelum ke-dua kekuatan tersebut bertemu, pihak pemenang
seolah telah di-gariskan oleh takdir. Sebagaimana telah disampaikan di awal,
ke-lemahan terbesar pihak Sekutu da-lam menghadapi tekanan Gurita Jepang di
Hindia Belanda, adalah adanya ketidak-kompakan komando diantara anggota ABDA
serta ketidakimbangan kekuatan di la-pangan. Hal tersebut tampak kian nyata
saat menjelang pertempuran terjadi. Armada ABDA pimpinan Karel Doorman berangkat
dengan kondisi tergesa-gesa, tanpa per-siapan matang dan tanpa perlindungan
udara yang memadai. Dengan bermodal semangat membara mempertahankan wilayah
terakhir Koloni Hindia Belanda, Karel Doorman memerintahkan armadanya berlayar
sejak tanggal 25 Februari 1942. Namun, musuh yang dicari-carinya belum
dijumpainya karena masih terlalu jauh. Setelah 2 hari penuh berlayar tanpa
henti, akhirnya Armada Sekutu tersebut bermaksud kembali ke Surabaya untuk
beristirahat pada pukul 09.30 pagi. Namun sebelum rencana ter-sebut terlaksana,
Admiral Helfrich, yang telah mendeteksi kedatangan Armada Gurita Timur di Laut
Jawa sejak fajar tanggal 27 Februari 1942, memerintahkan untuk kembali ke
sebelah timur Bawean. Menyadari kondisi anak-buahnya yang telah ke-lelahan dan
bahan bakar yang me-nipis, perintah tersebut sempat di-abaikan oleh Doorman
yang tetap memerintahkan armadanya terus bergerak ke Surabaya. Pukul 15.00,
Helfrich kembali memerintahkan Doorman untuk mencegat musuh yang telah
mendekati sebelah timur Pulau Bawean. Akhirnya, tanpa sempat beristirahat,
Doorman terpaksa memerintahkan armadanya berputar arah menghadang musuh yang
kondisinya lebih segar dan tengah “mabuk kemenangan”. Akhirnya, dua kekuatan
tersebut bertemu di sekitar perairan Teluk Banten pada tanggal 27 Februari 1942
pukul 16.16.
Guna melindungi diri dari gempuran kapal-kapal penjelajah Sekutu, Jepang
kemudian memasang tabir asap dan sempat membingungkan Armada Sekutu yang tidak
dapat mengoreksi akurasi tembakannya. Sebaliknya, Armada Jepang tidak sedikitpun
terganggu, karena sebelum pecah pertempuran telah meluncurkan 3 pesawat
intainya yang berbasis di kapal induk mereka sehingga dapat mengoreksi
tembakannya. Pesawat-pesawat tempur Sekutu sempat memberikan bantuan dengan
melakukan serangan udara atas kapal-kapal angkut Jepang, namun ironisnya tak
ada yang berpikir untuk menghalau pesawat intai Jepang. Penjelajah HMS Exeter
yang terlebih dahulu kena hajar torpedo hingga rusak, bermaksud kembali ke
Surabaya. Ironisnya, tindakan Exeter tersebut disalah-artikan sebagai manuver
pertempuran, akibatnya formasi menjadi kacau. Doorman yang melihat kondisi
tersebut, mengeluarkan perintahnya yang terkenal: “Ik val aan, volg mij!”
(Saya menyerang, ikuti saya). Namun, perintah tersebut sudah ter-lambat.
Bagaikan masuk perangkap sitting duck, satu demi satu Armada Sekutu dihabisi
Jepang. Agar menyelamatkan satuan kapal angkutnya dari incaran Sekutu, Jepang
bermanuver ke arah barat dan langsung dikejar oleh Doorman. Di tengah kegelapan
malam, pesawat Jepang melepaskan peluru suar yang menyinari posisi Sekutu,
sehingga Armada Jepang dengan leluasa menembakinya tanpa mendapat balasan
berarti. Menyadari posisinya yang tidak menguntungkan, Doorman bergerak ke arah
timur (perairan Tuban) yang celakanya justru masuk ke ladang ranjau Sekutu
sendiri. HMS Jupiter menjadi korban ranjau Sekutu dan tenggelam. Setelah
berhasil menjepit sisa-sisa Armada Doorman, Penjelajah Nachi dan Haguro
melepaskan hujan torpedo ke arah De Ruyter, Java dan Perth. Kontan De Ruyter
(berikut Doorman) dan Java tenggelam, sementara Perth dengan terseok-seok lari
ke Tanjung Priok. Sementara itu, Exeter dan Encounter ditenggelamkan tanggal 28
Februari. Lalu, Witte de With diledakkan sendiri oleh Belanda di Pelabuhan
Surabaya. Pertempuran terus berlanjut hingga tanggal 1 Maret malam. Sisa Armada
Sekutu, yaitu Pope, Houston dan Perth dihabisi di Selat Sunda. Sementara itu,
Alden, Ford, P. Jones dan J. Edwards berhasil melarikan diri ke Australia. Di
pihak Jepang, tak satupun yang tenggelam. Pertempuran laut ini, oleh Helfrich
dikenangnya sebagai Een Mooie Zeeslag is het niet geweest (Itu adalah
pertempuran laut yang tidak bagus).
Tertunda Satu Hari
Penghadangan Armada Karel Doorman terhadap konvoi Gurita Timur Jepang di
perairan Laut Jawa memang tidak menimbulkan kerugian besar bagi Jepang. Namun
pengorbanan Doorman berhasil menunda kejatuhan Pulau Jawa 1 hari dari jadwal
yang telah ditarget oleh pihak Jepang. Hindia Belanda sendiri menyerah kepada
Jepang pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat. Pada Pertempuran Laut
Jawa 27 Februari 1942, diantara 2.300 prajurit Sekutu yang gugur terdapat
sejumlah pelaut keturunan Indonesia (pribumi). Di Hr. Ms. De Ruyter saja
diperkirakan ada 74 pelaut yang gugur di tempat dari 108 pelaut pribumi. Para
pelaut pribumi tersebut rata-rata bertugas sebagai inheemse matroos, stoker dan
inheemse jongen.©
0 komentar:
Poskan Komentar